Selama ini banyak orang yang beranggapan bahwa Jakarta , sebagai ibukota Negara merupakan wilayah yang paling padat penduduknya di Indonesia dan pulau Jawa merupakan pulau yang paling padat penduduknya.
Anggapan ini ternyata salah.
Sebab ternyata ada salah satu pulau di Indonesia yang alasannya sedemikian padat penduduknya , menimbulkan kepadatan penduduk Jakarta menjadi tidak ada apa-apanya.
Saking padatnya pulau yang satu ini bahkan tidak ada tanah atau lahan kosong yang bisa digunakan untuk membangun rumah baru.
Satu-satunya lahan – yang boleh dikatakan terbuka – hanyalah halaman sebuah masjid yang sesungguhnya tidak begitu luas.
Tidak itu saja , di pulau ini – alasannya saking padatnya – bahkan hampir tidak bisa ditemukan pohon besar yang tumbuh.
Uniknya , alasannya hampir tidak ada dedaunan yang bisa digunakan untuk pakan ternak , sampai-sampai hewan kambing yang juga dipelihara masyarakat Bungin memiliki kebiasaan makan kertas dan plastik !
Sedemikian padatnya pulau Bungin ini , maka kalau dilihat dari atas , pemandangan yang terlihat dari pulau ini hanyalah atap-atap rumah belaka yang saling berhimpitan.
Pulau itu ialah Pulau Bungin yang terletak di daerah NTB. Tepatnya di wilayah Kecamatan Alas , Kabupaten Sumbawa , Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Bayangkan saja pulau Bungin yang hanya seluas 8 ,5 hektar ini dihuni oleh 3.400 jiwa dengan 708 Kepala Keluarga. Dan itu artinya , di setiap hektarnya ada sebanyak 400 jiwa !
Dengan tingkat kepadatan penduduk yang sedemikian berjubel itulah menimbulkan Pulau Bungin tidak hanya sebagai Pulau paling pada di Indonesia , tetapi juga sebagai Pulau yang paling padat di dunia !
Yang menjadi unik , justru alasannya kepadatannya itu pulalah , Pulau Bungin ini bisa terus “tumbuh” membesar. Makin hari Pulau Bungin semakin bertambah luasannya dan terus bertambah.
Pasalnya alasannya sudah tidak ada lahan atau tanah kosong yang bisa digunakan untuk membangun rumah , maka ketika penduduk pulau Bungin ingin membangun sebuah rumah gres , maka mereka terpaksa harus menguruk ( me-reklamasi ) wilayah pantai terluar pulau ( meski sesungguhnya sudah tidak punya garis pantai ).
Uniknya lagi , untuk mengurug ( reklamasi ) pantai ini , warga pulau Bungin bukannya menggunakan tanah atau padas urug sebagaimana yang umum digunakan orang , melainkan malah menggunakan kerikil karang yang memang banyak terdapat di dekitar pulau.
Nah , alasannya dari waktu ke waktu pantainya di urug dengan kerikil karang inilah maka secara otomatis pulau Bungin “ tumbuh” bertambah besar luasannya.
Saat hendak membuat sebuah rumah gres , maka warga pulau Bungin hanya tinggal memilih lokasi di pinggir pantai , yang kemudian dibuat sebagai gundukan kecil dan menandainya dengan bendera. Langkah selanjutnya ialah tinggal menguruknya dengan kerikil karang , sehiangga menjadi “tanah lahan” yang siap untuk dibangun rumah di atasnya.
Untuk mendapatkan kerikil karang , warga Pulau Bungin mencarinya di di lautan dangkal yang lokasinya sekitar 20 menit dari Pulau Bungin.
Batu-batu karang yang memang cukup banyak di lokasi tersebut , dipecah dan dihancurkan dengan palu dan linggis di dalam air yang kira-kira sepinggang dalamnya , kemudian diangkut menggunakan perahu. Dimana Satu perahu kerikil karang dijual seharga Rp 50 ribu.
Namun meski penduduk Bungin mengambili kerikil karang , mereka tetap ramah lingkungan.
Sebab karang yang diambil untuk pengurugan pantai ialah karang yang telah mati. Bukannya karang hidup tempat berkembang biak ikan.
Mayoritas penduduk pulau Bungin ialah keturunan Suku Bajo , yang berasal dari Sulawesi. Suku Bajo semenjak dulu telah dikenal sebagai suku pengembara laut dan penyelam ulung.
Sejak bayi , belum dewasa pulau Bungin bahkan telah dikenalkan dengan lautan , sebagaimana yang tergambar dalam Upacara Toyah.
Dalam upacara Toyah , seorang bayi akan dipangku oleh 7 orang wanita yang kemudian secara bergantian mengayun-ayunankan bayi laiknya mengarungi gelombang lautan ketika mereka menjadi seorang pelaut ketika telah besar nanti.
Karena susila istiadat dan kebiasaan itu pula , belum dewasa terkecil pulau Bungin-pun sudah sangat andal dalam berenang dan menyelam untuk berburu ikan.
Anak-anak pulau Bungin piawai dalam bermain perahu di laut tanpa pengawasan orangtua laiknya bermain sepeda.
Karena itu , belum dewasa pulau Bungin yang masih seusia sekolah dasar sudah bisa mencari uang jajan sendiri dengan cara berburu ikan hias untuk dijual.
Dengan kondisi lingkungan yang menyerupai itu menimbulkan secara umum dikuasai masyarakat pulau Bungin bekerja sebagai nelayan. Penduduk mencari ikan , lobster dan teripang baik dengan menyelam ataupun memanah. Sebagian diantaranya memiliki keramba.
Yang menjadi unik lagi , meski kondisi pulau Bungin sedemikian berjejal saking padatnya , sangat jarang warga pulau Bungin yang pergi merantau. Mereka tetap memilih berkeluarga dan bertempat tinggal di pulau yang paling padat ini.
Akibatnya , alasannya jumlah penduduk makin bertambah sedangkan sudah tidak ada lagi lahan kosong , maka mereka kemudian mereklamasi pantai-pantainya , sehingga makin lama pulau Bungin makin bertambah luasnya.
Meski sedemikian padat dengan penduduknya dan hampir tidak ada lahan kosong , lingkungan kampung di Pulau Bungin umumnya relatif bersih.
Tidak ditemukan adanya timbunan sampah yang berserakan.
Hal ini tentu jauh berbeda dengan kondisi lingkungan di kota-kota lain pada umumnya.
Dengan segala keunikannyannya , pemerintah Nusa Tenggara Barat (NTB) Badrul Munir ingin mempromosikan pulau Pulau Bungin ini sebagai objek wisata baru.
Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Juru bicara Pemprov NTB yang menjelaskan perihal penetapan pulau Bungin sebagai venue Hari Nusantara dan sebagai obyek wisata beberapa tahun lalu.
Dan berikut data perihal Pulau Bungin :
Provinsi Nusa Tenggara Barat
Kabupaten Sumbawa
Kecamatan Alas
Kodepos 84353
Luas 1.5 km²/sup> per 1994
Jumlah penduduk 5.025 jiwa per 2014
Kepadatan 4.500-an jiwa/km²/sup>
Untuk susukan menuju Pulau Bungin yang merupakan pulau terpencil dan salah 1 dari 8 desa di kecamatan Alas , kabupaten Sumbawa , ini dapat menggunakan perahu motor atau sebuah jalan buatan dari daratan utama.
Sebab Pulau Bungin terletak kurang lebih berjarak 70 kilometer arah barat dari kota Sumbawa Besar.
Di pelabuhan lama Labuhan Alas biasanya ada perahu motor - disebut Jonson - yang ditenagai dengan mesin 8 PK untuk penyeberangan ke Pulau Bungin semenjak pagi hari hingga sore hari.
Pengunjung dapat merapat di 2 buah dermaga yang tersedia , di selatan atau di episode barat.
Berbeda dengan pulau-pulau lainnya di daerah tersebut , begitu mendarat di Pulau Bungin tidak akan terlihat adanya hamparan pasir pantai , melainkan hanya rumah-rumah penduduk yang seolah mengapung di atas air.
Karena penduduk Pulau Bungin ialah secara umum dikuasai keturunan suku Bajo , maka rumah-rumah mereka dibuat berupa rumah panggung khas Sulawesi. Meski demikian jalan atau gang di dalam kampong berupa beton rabat selebar 1 ,25 meter.
Meski tidak bisa dikatakan cukup luas , pulau Bungin yang berbentuk agak lingkaran lonjong ini ternyata terdiri dari 3 dusun yang terbagi menjadi 15 RT dengan status pemerintah desa.
Konon , yang pertama kali merintis menempati pulau Bungin ialah Palema Mayo , yaitu salah satu dari 6 orang anak raja Selayar. sebelum persitiwa meletusnya gunung Tambora pada tahun 1812.
Saat itu , pulau Bungin yang berpasir putih ini masih kosong dan hanya ditumbuhi pohon Bakau belaka.
Dengan segala keunikannya kini Pulau Bungin menjadi salah satu tujuan wisata di kabupaten Sumbawa.
Di setiap hari Minggu pulau Bungin bahkan cukup ramai mendapatkan kunjungan wisatawan mancanegara.
Kalau 5 tempat ini "wajib" dilihat para pengantin gres :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar