Jika membaca artikel ini anda mungkin akan segera teringat dengan salah satu film fiksi ilmiah keluaran Hollywood yang meledak di pasaran dan menjadi Box Office , Alien Vs Predator.
Saking larisnya film Science fiction ini bahkan kemudian dibuat berseri.
Ide pembuatan film Alien Vs Predator bisa jadi merupakan sebuah “ide gila”.
Sebab pada dasarnya film ngeri yang didasari sejarah dan ilmu pengetahuan modern ini , “mengawinkan” dua film – yang juga merupakan box ofiice dan sukses – sebelumnya. Alien. Dan Predator.
Film Alien sendiri bertutur wacana bagaimana Sigourney Weaver ( Ellen Ripley ) harus mati-matian bertahan hidup dari keganasan dan kengerian bahaya mahluk Alien di stasiun luar angkasa.
Weaver harus mengerahkan semua logika , pikiran serta semua kekuatan fisik yang dimilikinya dari Alien yang suka menimbulkan badan insan sebagai inang untuk memperbanyak jenisnya.
Dan saat benih Alien ini “siap lahir” maka mahluk abnormal ganas ini akan menjebol tulang menerobos keluar badan inangnya.
Yang ngerinya , saat itu semua terjadi , insan yang dijadikan inangnya masih dalam kondisi hidup.
Repotnya mahluk Alien ini sangat susah dibinasakan.
Selain sangat cendekia , memiliki gerakan yang sangat sulit dideteksi , mahluk Alien ini juga memiliki lapisan kulit yang kebal. Bahkan air liur dan darahnya bisa merontokkan besi baja.
Sedangkan film Predator berkisah wacana kepayahan Arnold Schwarzenegger (Mayor Dutch Schaeffer ) dalam berburu – juga mahluk angkasa luar – di lebatnya belantara Amerika Selatan.
Sebab saat seharusnya Arnold dan timnya yang nota bene merupakan satuan ellit khusus tentara Amerika ini ( United States Army Special Forces ) memburu Predator , yang terjadi sebaliknya.
Arnold dan pasukan khususnya yang malah diburu buruannya. Yang kemudian malah dibantai satu persatu , tinggal satu-satunya mayor Dutch ( Arnold ) saja yang masih bisa bertahan hidup.
Ngerinya , mahluk luar angkasa jelek namun dilengkapi dengan teknologi dan persenjataan teramat canggih – yang salah satunya sekelas bom nuklir - ini tidak hanya sebatas suka membantai , melainkan juga sangat gemar menguliti mangsanya dan menimbulkan korban keganasannya sebagai piala.
Karena kengeriannya itulah mahluk Predator ini dijuluki "El Diablo que hace trofeos de los hombres" yang merupakan bahasa Spanyol untuk menyebut "Sang Setan yang membuat piala dari kepala manusia".
“Ide gila” menarungkan dua mahluk mengerikan Alien dan Predator inilah yang bisa jadi diadopsi oleh para andal kesehatan untuk melawan virus Zika.
Sebagaimana diketahui , belakangan ini dunia sedang digegerkan oleh keganasan wabah virus Zika. Dari wilayah wabah Amerika Selatan – Brasil khususnya – virus ini kemudian menyebar menuju ke pecahan dunia lainnya.
Repotnya , Virus yang kalau menyerang wanita hamil ini akan berakibat fatal pada bayi gres lahir ini , meski sudah sekian lama , sampai kini belum diketahui dan ditemukan obatnya.
Karena itulah para pakar kesehatan dibuat pusing dengan ulah virus yang satu ini.
Dalam upayanya untuk mengatasi keganasan virus Zika itulah para andal kesehatan kemudian “menoleh” pada mahluk yang sama-sama “ngerinya” , bakteri.
Baik virus maupun basil , keduanya sama-sama mahluk yang pada umumnya merugikan dan mengancam kesehatan manusia.
Dalam hal ini , basil yang dimanfaatkan oleh para andal kesehatan untuk memerangi virus Zika yakni yang dinamakan Bakteri Wolbachia.
Makara ibaratnya ya mirip di atas tadi , Alien Vs Predator. Virus Zika Vs bacteri Wolbachia.
Sebagaimana yang dilaporkan di Scientific Report , Matthew T Aliota yang meneliti persoalan ini memperlihatkan laporannya wacana tingkat efektivitas basil Wolbachia dalam mengatasi virus Zika.
Hasil risetnya menyebutkan bahwa tingkat bisul virus zika pada nyamuk Aedes aegypti yang telah memiliki Wolbachia ternyata lebih rendah.
Hal ini diamini oleh Adi Utarini , yang merupakan seorang peneliti Fakultas Kedokteran di Universitas Gajah Mada (UGM) yang menyebarkan Wolbachia untuk mengatasi dengue di Indonesia.
Utarini menyatakan :
"Hasil riset yang dilakukan oleh universitas mitra kami , Monash University di Australia , skala laboratorium , Wolbachia bisa menanggulangi dengue , chikunguya , dan zika ,"
Utarini juga mengatakan bahwa riset sebelumnya untuk pemanfaatan basil Wolbachia dalam mengatasi DBD kini telah memasuki tahap ketiga.
Tujuannya untuk mengetahui efektivitas penggunaan Wolbachia. Penelitian ini diperlukan rampung pada 2019.
Dari riset tahap sebelumnya terungkap bahwa nyamuk ber-Wolbachia bisa bertahan di lingkungan dan menekan bisul dalam skala kecil.
Sedangkan berdasar dari Analisis risiko yang dilakukan oleh tim independen yang dipimpin oleh Damayanti Buchori , yang merupakan profesor entomologi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) , mengungkapkan bahwa risiko penggunaan Wolbachia untuk penanggulangan DBD bisa diabaikan. Sehingga langkah pengembangan lebih lanjut sangat terbuka.
Sebagaimana diketahui , virus Zika “dibawa” oleh nyamuk Aedes Aegypti , nyamuk yang sama membawa penyakit DBD ( demam berdarah dengue ).
Hasil penelitian itulah yang kemudian dianggap membuka peluang gres dalam mengatasi virus Zika.
Lihat juga :
Pertanyaannya ,
Jika pada film Alien Vs Predator pada balasannya dimenangkan ( sementara ) oleh Predator , maka untuk virus Zika Vs basil Wolbachia , pada balasannya menang mana ?
Tunggu saja endingnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar