Senin, 14 Agustus 2017

Waspada ! Wanita 30 Tahunan Lebih Beresiko Terserang Penyakit CFS Yang Belum Diketahui Penyembuhannya

| No comment
Jika anda termasuk wanita dalam golongan usia rentang 30 tahunan ke atas ( sampai 50 tahun ) ada baiknya berwaspada terhadap satu penyakit yang dinamakan CFS.

Sebab sampai kini penyakit CFS ini selain tanpa diketahui apa penyebabnya , juga belum diketahui bagaimana penyembuhannya.

Eloknya , menurut catatan , setidaknya ada sampai 2 ,5 juta orang di Amerika yang telah terdampak oleh penyakit CFS ini.
Menurut para peneliti , penyakit CFS mampu saja menyerang baik pada pria maupun wanita.
Namun diketahui , kaum wanita ternyata lebih berisiko terdampak penyakit ini bila dibanding dengan pria , yang biasanya menyerang pada orang yang berusia antara 30 sampai 50 tahun.

Tetapi apa itu penyakit CFS ?

Sebagaimana yang dilansir dari laman CNN Indonesia , diungkap oleh para peneliti dari University of California , San Diego yang dikepalai oleh Robert K. Naviaux , dan dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences , penyakit CFS atau Chronic Fatigue Syndrome ialah satu kondisi kesehatan dimana penderita merasa lelah yang bahkan mampu terjadi sampai lebih dari enam bulan.
Dan dalam jangka waktu tersebut penderita dapat mengalami serangan sakit kepala , problem tidur , sampai problem ingatan.
Kondisi ini pada jadinya mampu berdampak kepada banyak sistem badan penderita dengan gejala yang variatif.


Dalam bidang medis penyakit CFS ini juga dikenal sebagai Myalgic Encephalomyelitis (ME)

Eloknya , yang namanya penyakit CFS atau ME ini tanpa diketahui penyebabnya , tidak ada tes diagnosa laboratorium dan tanpa diketahui penyembuhannya.

Sehingga terkadang penderita harus terpaksa menghabiskan begitu banyak biaya – butuh waktu yang lama pula – untuk mampu memperoleh diagnosis yang benar.
Karena itulah Robert K. Naviaux menyebut “CFS merupakan penyakit yang cukup menantang”.

Dalam riset proses biologis untuk penelitian penyakit CFS tersebut , tim meneliti sebanyak 84 orang subjek , gejala CFS. 45 orang pria dan sisanya kaum wanita.
Dari sampel yang diambil setiap sukarelawan , peneliti dapat mengidentifikasi adanya 612 metabolite. Yaitu sebuah substansi yang diproduksi oleh sel badan yang dapat merusak molekul.
Tim peneliti melaksanakan observasi wacana interaksinya dengan 63 jejak kimiawi dalam sel darah. Tim peneliti juga menemukan bahwa gejala CFS memiliki 20 kecacatan dalam jejak tersebut dan terdapat penurunan metabolite sebesar 80 persen.
Hasil ini juga memperlihatkan bahwa metabolisme CFS lebih lambat tanpa itu

Dari hasil riset yang dilakukan itulah , para peneliti jadinya mampu mengungkap kalau pada para penderita Chronic Fatigue Syndrome (CFS) ditemukan adanya sebuah zat kimia tertentu dan terdapat adanya suatu acara dari ‘dauer state’ , yang biasa dilakukan pada hewan cacing saat mengalami kondisi lingkungan yang keras.
Yang dalam bahasa sederhana ialah suatu kondisi Hibernasi sebagaimana layaknya yang umum dilakukan oleh beberapa spesies tertentu untuk bertahan dari tekanan lingkungan.
Hibernasi dalam bahasa awam ialah “tidur panjang”.

Penemuan ini dianggap sangat memiliki kegunaan alasannya ialah nantinya dibutuhkan dapat membantu para peneliti untuk dapat memahami lebih secara lebih baik mekanisme yang terjadi dalam kondisi “hibernasi” ini , dan membawa kepada teknik diagnosis dan pengobatan yang baik di masa mendatang.

Dengan memahami adanya kemiripan antara dauer dan CFS para peneliti berharap dapat membantu menjelaskan penyebab kondisi utama.

Disarankan melihat juga :
Tags :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Accordition