Sabtu, 02 September 2017

Tahukah ? Film Bisu Inilah Yang Menjadi Cikal Bakal Dan Biang Keladi Rusaknya Moral Generasi Muda

| No comment
Membaca judul di atas anda pasti tahu apa yang dimaksudkan dalam hal ini.
Dan memang benar , yang dimaksud dalam hal ini ialah film-film yang berwarna biru alias film esek-esek alias filmya “Kang Parno” .
Sudah ada begitu banyak tindak kasus kekerasan , penyimpangan atau tindakan s3ksu4l yang tidak sesuai jalurnya – baik itu yang dilakukan oleh yang dibawah umur , yang telah berumur bahkan hingga yang telah lewat umur – yang terjadi gara-gara terpengaruh dan terbius oleh film esek-esek yang telah ditontonnya. Yang lebih memprihatinkan , film-film ibarat ini membuat orang yang menontonnya menjadi ketagihan dan kecanduan.

Karena itulah – dengan alasan apapun – semua pihak sepakat jikalau film-film biru alias film esek-esek inilah yang menjadi perusak etika generasi muda , hampir di setiap bangsa.

Sejak mulai kapan film-film ibarat ini dibuat ? Dan apa judul film esek-esek yang pertama kali dibuat ?

Saya sendiri sebelumnya sesungguhnya juga tidak tahu dan memang tidak mau tahu perihal hal ini.
Namun dikala kebetulan browsing di Wikipedia secara tidak sengaja malah “nyelonong” menerima informasi ini.
Mungkin dengan beberapa pertimbangan , informasi yang dirilis dalam Wikipedia sendiri “dibuat” cukup singkat. Namun cukup padat dan terang untuk mampu menunjukkan informasi perihal film esek-esek yang pertama kali dibuat ini.

Menurut Wikipedia , film esek-esek yang pertama kali dibuat ( dan dipublikasikan ) yang kemudian menjadi cikal bakal rusaknya etika generasi muda ialah film ini , Judul filmya ialah Le Coucher de la Mariée.

Jelas dari bahasanya , film esek-esek yang dibuat pada bulan November 1896 ini merupakan film Perancis.
( Makanya hingga sekarang negara Perancis masih tetap terkenal dengan “film Perancis” nya , terutama dikala nonton TV lewat parabola ).
Film erotic yang pertama kali dibuat tersebut sesungguhnya cukup singkat masa putarnya , hanya sekitar 7 menit. Formatnya-pun masih hitam putih dan tanpa bunyi ( tanpa percakapan ) alias film bisu.
Menurut catatan , film Le Coucher de la Mariée yang diperankan oleh Louise Willy ini disutradarai oleh Albert Kirchner yang memiliki nama samaran “Léar” dengan produser Eugène Pirou.

Skenario dongeng dari film Le coucher de la mariée atau dalam bahasa Inggrisnya berjudul Bedtime for the Bride atau The Bridegroom's Dilemma sesungguhnya tidak saru-saru amat.


Sebab film ini menceritakan perihal bagaimana pengalaman pertama sepasang memepelai suami istri di pelaminan. Yang jikalau dibandingkan dengan film-film XXX sekarang ini mungkin malah terkesan “culun”.
Bahkan dikarenakan telah terdegradasi , film yang harusnya memiliki masa putar 7 menit ini tinggal hanya 2 menit saja. Sehingga kemudian tidak mampu dilihat adanya adegan-adegan yang “benar-benar mampu bikin panas dingin”.

Konon , film Le Coucher de la Mariée atau Bedtime for the Bride ini merupakan pembiasaan eksklusif dari sebuah program pementasan teater dengan judul yang sama ( bahkan dengan pemain yang sama pula ) yang digelar di di Olympia Theater Paris.
Yang tentu saja dikala dipentaskan di teater “hanya” berupa gerakan-gerakan pantomim eksplisit.
Namun alasannya ialah episode adegan dalam film Le Coucher de la Mariée merupakan “adegan film yang tidak biasa” waktu itu , maka episode tersebut tetap dianggap sebagai “adegan panas” dan filmya dianggap sebagai film erotic yang pertama kali di dunia , dan dijuluki "Stag party films".

Namun “berkat” film bisu Le Coucher de la Mariée inilah kemudian lahir film-film yang berani , lebih berani , yang kurang bimbing , lalu kemudian yang sangat kurang bimbing sesudahnya.
Yang mana jikalau melihat data , sekarang ini ada jutaan film sejenis yang diunggah di internet di setiap harinya. Sehingga bahkan di internet – terutama pencarian di mesin pencari Google – didominasi oleh kata pencarian yang saru semacam ini. Seperti er0tic , p0rn0 , dan sebagainya.

Karena itulah menjadi tidak terelakkan jikalau film bisu Le Coucher de la Mariée – alasannya ialah merupakan film erotic alias film esek-esek yang pertama kali dibuat – pantas disebut sebagai film yang menjadi cikal bakal dan biang keladi rusaknya etika generasi muda.

Lihat juga :
Tags :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Accordition