Sering kali sebagai orang Indonesia malah kurang pede dan tidak besar hati dengan makanan negeri sendiri , bahkan cenderung memandang dengan sebelah mata. Sehingga merasa aib ketika suatu ketika “harus” menyajikannya ( untuk orang absurd misalnya ).
Pandangan dan anggapan menyerupai ini , ketika ini ada baiknya mulai dihilangkan.
Sebab , beberapa makanan yang seringkali dianggap sebagai makanan bodoh ternyata malah diminati oleh orang luar negeri , warga London khususnya.
Hal inilah yang terlihat dalam sebuah program Indonesian Weekend , yang digelar oleh Komunitas Bangga Indonesia di Potters Field Park , London beberapa waktu lalu , sebagaimana dilansir dari laman CNNIndonesia.
Dalam program masakan tersebut digelar aneka macam macam menu "makanan ndeso" khas Indonesia , mulai dari tempe , sate hingga bakso.
Dan meski sering dianggap menu makanan ndeso ( di Indonesia sendiri ) dalam program tersebut makanan-makanan tersebut justru dijual dengan harga yang cukup “selangit” bagi ukuran kantong orang Indonesia.
Bayangkan saja jikalau menu makanan bodoh ini harga jualnya mulai dari GBP1 atau setara Rp 20 ribu hingga GBP5 atau setara Rp100 ribu per porsi.
Dalam program Indonesian Weekend tersebut semenjak pagi hari terlihat warga London yang begitu antusias memadati area kios pameran.
Mereka sangat tertarik – bahkan rela mengantri – untuk mampu membeli makanan yang dijajakan.
Salah satu kios yang terlihat kewalahan melayani pembeli yang berebutan memesan ialah Warung Windsor.
Warung yang dikelola oleh warga asli London berjulukan Phill ini menyajikan menu makanan ( bodoh ) special , yaitu sate ( Indonesia ) , mulai dari sate sapi hingga ( malah ) sate tempe.
Saat diwawancarai Phill mengatakan :
“Belasan tahun yang lalu , gua sempat mengunjungi Indonesia. Dari sana gua mengenal sate.
Setelah berdiskusi dengan beberapa sahabat yang asli sana , gua lalu sepakat untuk menjual menu sate , mulai dari sate ayam hingga sate tempe ,”
“Menu sate tempe , kami beri nama Sate Jokowi. Karena tampilannya yang sederhana dan rasanya yang wah!” lanjut Phill seraya tersenyum.
Padahal jikalau sate tersebut dicicipi ( oleh orang Indonesia asli ) pastinya akan menyatakan jikalau rasanya kurang “nendang” alasannya kurang bumbu.
Namun bagi warga London sate buatan Phill tersebut sudah diacungi jempol cita rasanya.
Hal tersebut setidaknya yang dinyatakan oleh seorang pembeli berjulukan Harry , bersama teman-teman sekantornya , yang menyempatkan merasakan Sate Padang dari Warung Windsor.
Harry menyatakan :
“Melihat cara memasaknya , gua menduga sate itu sejenis steak.
Tapi ternyata berbeda. Ada rasa yang muncul dalam pengecap ketika menikmati sate yang pribadi diangkat dari pembakaran ,”
“Untuk soal rasa , makanan ini cukup enak. Tapi menurut sahabat gua yang asli Indonesia , sate ini harusnya lebih padat dengan rempah ,” tambah Harry.
Eloknya , jikalau di Indonesia sendiri para pedagang kaki lima “dikejar-kejar dan digusuri’ maka program Indonesian Weekend jutsru digelar dalam nuansa kaki lima , yang malah seolah berjodoh dengan suasana di Potters Field Park , dengan dengan pemandangan Tower Brigde , Tower of London , City Hall dan Sungai Thames.
Selain sate , beberapa menu makanan “ndeso” lainnya yang ternyata cukup dimintai oleh masyarakat London ialah nasi goreng dan bakso.
Acara Indonesian Weekend itu sendiri direncanakan berlangsung hingga final bulan September ini.
Selain menu makanan tradisional , dalam program ini juga dimeriahkan dengan aneka macam macam pernak-pernik khas Indonesia , mulai dari kain tradisional Indonesia hingga aneka macam pajangan rumah yang dijual di beberapa kios.
Mengingat betapa antusiasnya warga absurd terhadap beberapa menu “makanan ndeso” ( menyerupai yang ditunjukkan pada ajang di atas ) maka sudah selayaknya warga Indonesia ikut merasa berbangga dengan hal ini. Lebih mempopulerkan dan menggalakkan makanan ndeso ini di kemudian hari , bukan malah menyepelekan dan memandangnya sebelah mata.
Lihat juga :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar